Khidr As Muncul Karena Ketulusan (1)

Kisah Hikmah Islami
Khidr As Muncul Karena Ketulusan (1)
Sosok Nabi Khidr AS yang terkenal karena kisah pertemuannya dengan Nabi Musa AS diabadikan dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi ayat 60-82 memang fenomenal. Nabi SAW juga mengulang kisah tersebut dalam beberapa hadist beliau dengan beberapa penjabaran. Dalam surat Al Kahfi tersebut tidak disebutkan nama Khidr dan juga statusnya sebagai salah satu nabi, hal ini saja sudah menimbulkan perbedaan pendapat, apakah beliau seorang nabi atau hanya seorang ulama atau salah satu auliyah Allah. Begitu juga terjadi perbedaan pendapat, apakah beliau masih hidup sampai sekarang atau sudah meninggal?

Bukan di sini tempatnya untuk membahas perbedaan pendapat tersebut karena masing-masing ulama mempunyai hujjah (argumentasi) yang kuat untuk mendukung pendapatnya. Bagi kita yang awam, cukuplah mengikuti pendapat yang kita mantap dengannya tanpa “menghujat” pendapat lain yang berbeda. Hanya saja, bagi yang percaya Nabi Khidr AS masih hidup sampai sekarang, terkadang ada yang terlalu “mendewa-dewakan” beliau, bahkan membuat cara-cara yang menyeleweng dari syariat hanya untuk bisa bertemu dengan beliau.

Sesungguhnya Nabi Khidr AS tidak bisa “dipaksa” hadir dengan cara apapun, kecuali jika Allah SWT mengijinkan beliau hadir seperti yang terjadi kepada Nabi Musa AS, atau beliau “ditugaskan” Allah SWT hadir sebagai jalan untuk menolong hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Kalau “ritual-ritual” yang diadakan untuk bertemu Nabi Khidr didasari hawa nafsu dan tujuan duniawiah semata-mata, bisa jadi yang hadir malahan syaitan terkutuk yang akan makin menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesesatan. Naudzubillahi min dzaalik!! Semoga kisah berikut ini memberikan hikmah dan menambah pemahaman bagi kita.

Al kisah, di negeri Turkestan tinggal seorang lelaki tua bernama Bakhtiar. Ia sangat miskin, dan dengan usianya yang telah renta, ia kesulitan untuk bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia sendiri “cukup malu” untuk meminta-minta walau warga di sekitarnya cukup banyak yang hidup berkelimpahan, karena itu ia tetap berusaha sebatas kemampuannya.

Suatu ketika raja yang berkuasa di Turkestan tersebut sedang didatangi seorang ulama sufi. Setelah menyampaikan beberapa nasehat, tiba-tiba Sang Raja menanyakan tentang Nabi Khidr yang misterius tersebut. Sang Sufi menceritakan tentang Nabi Khidr secara sekilas, kemudian berkata, “Khidr hanya datang jika diperlukan, tangkaplah jubahnya kalau ia muncul, maka segala pengetahuan akan menjadi milik Baginda!!”

Tentu saja apa yang dikatakan Sang Sufi tersebut tidak bisa diterjemahkan secara harfiah begitu saja. Sang Raja bertanya, “Apakah itu bisa terjadi pada siapapun?”

“Ya, siapapun bisa!!”

Setelah Sang Sufi pergi, keinginan Sang Raja untuk bertemu Nabi Khidr sangat kuat. Ia ingin melengkapi kekuasaannya dengan pengetahuan, dan itu akan bisa diwujudkan dengan mudah kalau ia bertemu Nabi Khidr dan ‘menangkap jubahnya’. Ia berfikir, “Kalau hal itu bisa terjadi pada siapapun, apalagi aku, bukankah aku seorang raja??”

Untuk memujudkan keinginannya tersebut, Sang Raja membuat sayembara yang disebarkan ke seluruh pelosok negeri, “Barangsiapa yang bisa menghadirkan Khidr yang misterius di hadapanku, maka ia akan kujadikan orang yang kaya…!!”

Ternyata tidak banyak yang merespon sayembara tersebut karena hal itu suatu hal yang tidak mudah, walau mungkin saja terjadi. Ketika Bakhtiar mendengarnya, muncul suatu rencana di benaknya. Ia berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, aku punya rencana dan kita akan segera kaya. Tetapi tak lama setelah itu aku akan mati, dan itu tidak mengapa, karena engkau telah mempunyai simpanan untuk bisa membiayai kehidupanmu seterusnya…!!”

Bakhtiar menceritakan rencananya. Istrinya hanya bisa setuju dan mendoakan saja. Bagi orang-orang seperti mereka, memang tidak banyak pilihan untuk bertahan hidup. Setelah itu ia pergi menghadap kepada Sang Raja.

Setelah memberi penghormatan seperlunya, Bakhtiar berkata kepada Sang Raja, “Hamba dapat menghadirkan Khidr, tetapi ada syaratnya!!”

“Apa syarat yang kamu minta itu?” Tanya Sang Raja.

“Baginda harus memberi hamba seribu keping uang emas!!”

Sang Raja setuju dengan persyaratan tersebut, dan memerintahkan salah satu abdinya untuk memberikan seribu keping uang emas kepada Bakhtiar. Lalu ia berkata, “Berapa lama waktu yang engkau perlukan untuk menemukan Khidr?

“Hamba akan mencarinya dalam waktu empatpuluh hari!!” Kata Bakhtiar lagi.

“Baiklah,” Kata Sang Raja, “Kalau engkau berhasil menemukan Khidr dan membawanya kemari, engkau akan mendapat tambahan sepuluh ribu keping uang emas. Tetapi jika engkau gagal, engkau akan mati dipancung di sini, sebagai peringatan bagi orang-orang yang mencoba mempermainkan rajanya!!”

Bakhtiar sudah tidak perduli lagi dengan ancaman tersebut, yang sebenarnya ia sudah menduga sebelumnya. Ia segera pulang dan menyerahkan seribu keping uang emas tersebut kepada istrinya. Ia sudah hampir yakin bahwa ajalnya akan tiba di tangan Sang Raja, empatpuluh hari kemudian. Karena itu sisa waktunya digunakannya untuk merenung, beribadah dan bertobat, mempersiapkan diri dengan amal-amal kebaikan sebagai bekal memasuki alam barzah. Ia telah banyak mendengar tentang Nabi Khidr yang memang tidak bisa dipaksakan kehadirannya, jadi untuk apa sibuk menghabiskan waktu mencarinya. Lebih baik ia terus beribadah dan bertobat, termasuk karena telah “menipu” Sang Raja.

Pada hari yang ditentukan Bakhtiar menghadap Sang Raja. Hatinya telah sangat mantap, empatpuluh hari hanya berkhidmat untuk beribadah kepada Allah, membuatnya tidak ada ketakutan kepada siapapun dan kepada apapun, kecuali kepada Allah saja. Maka kepada Sang Raja ia berkata tegas, “Wahai Raja, kerakusanmu telah menyebabkan engkau berfikir bahwa uang akan bisa mendatangkan Khidr. Tetapi Khidr tidak akan datang karena panggilan yang berdasarkan kerakusanmu itu!!”

Tentu saja Sang Raja amat marah dengan perkataannya tersebut. Bukannya datang untuk memenuhi janjinya, tetapi malah menasehatinya. Ia berkata, “Celaka kau ini, kau telah menyia-nyiakan nyawamu. Siapa pula kau ini beraninya mencampuri urusan seorang raja?”

Sekali lagi Bakhtiar berkata, “Menurut cerita, semua orang mungkin saja bertemu dengan Khidr. Tetapi pertemuan itu hanya ada manfaatnya jika ia mempunyai niat yang tulus dan benar. Seringkali sebenarnya Khidr telah datang di antara kita, tetapi kita tidak bisa memanfaatkan kunjungannya tersebut, dan itulah yang kita tidak bisa menguasainya!!”

Sang Raja makin marah dengan nasehatnya tersebut, ia memerintahkan para pengawal menangkapnya dan menghardik, “Cukup ucapanmu itu. Bualanmu itu tidak akan memperpanjang hidupmu. Engkau hanya tinggal menunggu bagaimana caranya engkau mati saat ini!!”

Sang Raja meminta pendapat para menterinya tentang cara mengeksekusi mati Bakhtiar. Menteri pertama berkata, “Wahai Raja, bakarlah dia hidup-hidup sebagai peringatan bagi yang lainnya!!”

Menteri kedua berkata, “Wahai Raja, potong-potong saja tubuhnya, dan pisah-pisahkan anggota tubuhnya (dimutilasi)…!!”

Menteri ketiga berkata, “Wahai Raja, sediakan saja kebutuhan hidupnya sehingga ia tidak akan pernah menipu lagi demi kelangsungan hidup keluarganya.”

Tengah Sang Raja mendiskusikan masalah tersebut, masuklah seorang tua yang tampak bijaksana. Setelah orang tua itu memberi salam, Sang Raja berkata, “Wahai orang tua, apa maksud kedatanganmu ke sini?”

“Saya hanya ingin mengulas pendapat para menteri anda itu!!”

“Apa maksudmu?” Tanya Sang Raja.

“Menterimu yang pertama itu dahulunya adalah tukang roti, karena itu ia berbicara tentang membakar (memanggang). Menterimu yang kedua dahulunya adalah tukang daging, karena itu ia berbicara tentang memotong. Dan menterimu yang ketiga inilah yang benar-benar mengerti masalah kenegaraan, karena itu ia melihat kepada sumber masalahnya…!!”

Selagi raja dan para hadirin terkejut dengan hakikat para menteri tersebut, orang tua itu berkata lagi, “Hendaklah kalian mencatat dua hal, pertama : Khidr akan datang untuk melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu memanfaatkan kedatangannya. Dan kedua : Bakhtiar ini, ia kuberi (tambahan) nama ‘Baba’ karena pengorbanan yang dilakukannya atas dasar terdesak dan putus asa (dari manusia). Keadaannya yang makin terdesak (yakni, akan dihukum mati) sehingga aku muncul di hadapan kalian semua!!”

Sekali lagi raja dan para hadirin terkejut dengan perkataan orang tua tersebut, yang tak lain adalah Nabi Khidr itu sendiri. Dan sebelum sempat mereka berbuat apa-apa, termasuk keinginan Sang Raja untuk “menangkap jubahnya”, Khidr telah lenyap dari pandangan. Sang Raja sangat menyesal, sebaliknya Bakhtiar merasa sangat gembira karena mendapat nama baru “Baba” langsung dari Khidr sendiri, tanpa ia mengharapkannya. Semacam sebuah “pengesahan” dari apa yang telah dilakukannya sebelumnya.

Tidak Menyembah Jika Tidak Melihat

Kisah Hikmah Islami
Tidak Menyembah Jika Tidak Melihat
Imam Ja’far ash Shadiq, salah seorang ulama sekaligus auliyah dari keturunan Nabi SAW, yakni dari pernikahan putri beliau Fathimah az Zahrah dan Ali bin Abi Thalib, suatu ketika sedang berjalan-jalan di tepi sungai Tigris, tiba-tiba muncul seseorang yang terkenal sangat kaya, pintardan terkemuka menghadang jalan Sang Imam. Orang ini seorang muslim, tetapi sangat materialis dan sangat mengagungkan otaknya semata. Ia berkata, “Wahai Imam, engkau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dan pemimpin para auliyah. Aku ingin melihat Allah dengan kedua mataku ini, dapatkah engkau mengaturnya untukku?”

“Wahai sahabatku,” Kata Imam Ja’far Shadiq, “Allah tidak bisa dilihat dengan mata lahirian ini, Dia hanya bisa dirasakan (kehadiran-Nya) dengan mata hati!!”

Lelaki materialis (mengukur segalanya hanya dengan yang tampak nyata) ini berkata, “Terserah apa yang engkau katakan, tetapi aku tidak bisa menyembah Tuhan yang tidak bisa disentuh dan dilihat!!”

Imam Ja’far Shadiq memandangnya dengan tajam, kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Angkatlah lelaki ini dan lemparkan ke sungai!!”

Mereka segera melaksanakan perintah sang imam, dan lelaki tersebut dilemparkan ke sungai. Dalam keadaan timbul tenggelam berjuang untuk selamat, lelaki materialis itu berseru, “ Wahai Imam, selamatkanlah aku! Aku mohon dengan sangat, selamatkanlah aku!!”

Imam Ja’far Shadiq memerintahkan para sahabat untuk mengangkatnya dari sungai. Lelaki tersebut masih terengah-engah nafasnya ketika beliau berkata lagi, “Ikat kedua tangannya dan lemparkan ke sungai, dan jangan diselamatkan lagi!!”

Lelaki materialis itu tampak ketakutan, tetapi para sahabat Sang Imam tetap patuh melaksanakan perintah beliau. Setelah dilemparkan ke sungai, ia megap-megap hampir tenggelam. Ia telah putus asa untuk meminta tolong pada sang imam, bisa-bisa keadaannya lebih parah. Dalam keadaan sangat kritis tersebut, ia berteriak, “Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, selamatkanlah hamba! Tidak ada yang bisa menyelamatkan hamba dari bahaya ini kecuali Engkau, Ya Allah!!”

Mendengar teriakan lelaki tersebut, Imam Ja’far Shadiq tersenyum dan memerintahkan para sahabatnya untuk menyelamatkan dia. Dalam keadaan gemetar ketakutan, lelaki itu dihadapkan kepada sang imam, dan beliau berkata, “Kamu memanggil-manggil : Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Yang Maha Pengasih…!! Apa benar kamu telah melihat-Nya??”

Lelaki itu berkata, “Benar, ya imam, ketika harapan kepada semua manusia telah lenyap, aku mencari perlindungan-Nya, dan mata hatiku terbuka sehingga aku bisa melihat (merasakan) kehadiran-Nya…!!”

Lelaki tersebut akhirnya bertobat dan tidak materialis lagi, bahkan menjadi pengikut sang imam yang setia.

Yang Pertama Dibakar Api Neraka

Kisah Hikmah Islami
Yang Pertama Dibakar Api Neraka
Pada hari kiamat nanti, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi akan mengadili mahluk-mahluknya pada yaumul hisab (Hari Perhitungan). Tidak ada perkara, yang sangat kecil atau remeh sekalipun, apalagi yang besar, pasti akan didatangkan ke sidang pengadilan yang benar-benar adil tersebut. Tentunya ada pengecualian bagi orang-orang yang Allah memberikan Rahmat dan Kasih-Nya, yang Allah menutupi keburukan-keburukannya dan memaafkannya, sehingga Allah memasukkannya ke surga tanpa hisab.

Yang pertama kali didatangkan untuk diadili adalah tiga kelompok manusia, yang waktu di dunia mempunyai kemuliaan dan keutamaan dalam pandangan manusia. Mereka adalah orang-orang yang membaca dan memahami Al Qur’an, orang-orang yang kaya (berharta), dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah

Allah mendatangkan salah seorang yang ahli membaca dan mengajarkan Al Qur’an dan berfirman, “Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang Aku turunkan melalui utusan-Ku?”

“Benar, wahai Tuhanku!!” Kata orang tersebut.

“Kemudian, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-Ku itu?”

“Saya mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena Engkau, ya Allah!!”

Allah berfirman, “Kamu bohong!!”

Para malaikat ikut berkata, “Kamu bohong!!”

Dan Allah berfirman lagi, “Kamu mengerjakan semua itu hanya karena ingin dikatakan bahwa engkau adalah orang pandai membaca Al Qur’an, seorang Qari’ yang hebat, dan semua itu telah dikatakan orang-orang kepadamu seperti yang kau inginkan!!”

Setelah itu Allah memerintahkan malaikat untuk menariknya dan melemparkannya ke neraka.

Kemudian Allah menghadirkan orang yang kaya (hartawan) yang banyak bersedekah di jalan Allah, dan berfirman, “Bukankah Aku telah memberi kelapangan kepadamu (yakni, berlimpah kekayaan) sehingga Aku tidak membiarkan dirimu membutuhkan seseorang?”

“Benar, wahai Tuhanku!!” Kata orang tersebut.

“Kemudian, apa yang telah kamu lakukan dengan nikmat-nikmat harta yang Aku berikan kepadamu itu?”

“Saya menyambung silaturahmi dan bersedekah. Tidak ada jalan atau tempat dimana Engkau senang jika diinfakkan harta, kecuali saya menginfakkannya semata-mata karena Engkau!!”

Allah berfirman, “Kamu bohong!!”

Para malaikat ikut berkata, “Kamu bohong!!”

Dan Allah berfirman lagi kepadanya, “Kamu melakukan semua itu agar engkau dikatakan sebagai dermawan, dan itu telah dikatakan orang-orang kepadamu seperti yang engkau inginkan!!”

Setelah itu Allah memerintahkan malaikat untuk menariknya dan melemparkannya ke neraka.

Selanjutnya Allah menghadirkan seseorang yang terbunuh ketika berjuang di jalan Allah. Setelah Allah mengingatkan berbagai nikmat yang dianugerahkan kepadanya dan ia mengakui, Allah berfirman kepadanya, “Apakah yang kamu amalkan di dunia?”

Orang tersebut berkata, “Saya diperintahkan untuk berjuang dan berperang di jalan-Mu, dan saya memenuhinya dengan terjun di medan jihad hingga saya terbunuh di jalan-Mu!!”

Allah berfirman, “Kamu bohong!!”

Para malaikat ikut berkata, “Kamu bohong!!”

Dan Allah berfirman lagi kepadanya, “Sesungguhnya kamu berjuang di medan jihad agar dikatakan bahwa engkau seorang pemberani, dan itu telah dikatakan orang-orang kepadamu sebagaimana engkau inginkan!!”

Setelah itu Allah memerintahkan malaikat untuk menariknya dan melemparkannya ke neraka.

Nabi Muhammad SAW yang menceritakan kisah ini, menepuk dua lutut Abu Hurairah dan bersabda, “Wahai Abu Hurairah, tiga orang (semacam) itulah mahluk Allah yang pertama kali dibakar oleh api neraka pada hari kianat nanti!!”

Utusan Izrail Kepada Nabi Ya’kub As

Kisah Hikmah Islami
Utusan Izrail Kepada Nabi Ya’kub As
Sebagaimana kebanyakan nabi-nabi lainnya, Nabi Ya’kub AS bersahabat dengan Malaikat Izrail atau malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa. Suatu ketika Malaikat Izrail mengunjungi Nabi Ya’kub, dan beliau berkata, “Wahai malaikat maut, engkau datang hanya sekedar mengunjungi aku atau akan mencabut nyawaku?”

Malaikat Izrail berkata, “Aku hanya sekedar berkunjung!!”

“Bolehkan aku meminta agar engkau memenuhi satu keinginanku?’ Tanya Nabi Ya’kub.

“Apa itu?”

“ Kuminta agar engkau memberitahukan kepadaku jika saat ajalku telah dekat dan engkau akan mencabut nyawaku!!”

“Baiklah,“ Kata Malaikat Izrail, “Aku akan mengirimkan kepadamu dua atau tiga utusan jika saat ajalmu telah dekat!!”

Beberapa tahun kemudian, ketika saat ajal Nabi Ya’kub telah tiba, Malaikat Izrail datang kepada beliau, dan seperti biasanya beliau berkata, “Wahai malaikat maut, engkau datang hanya sekedar mengunjungi aku atau akan mencabut nyawaku?”

Malaikat Izrail berkata, “Aku datang untuk mencabut nyawamu!!”

Tentu saja Nabi Ya’kub kaget dengan jawaban tersebut, beliau berkata, “Bukankah engkau telah berjanji akan mengirimkan dua atau tiga utusan jika saat ajalku telah dekat?”

Malaikat Izrail berkata, “Wahai Ya’kub, aku telah melakukannya. Putihnya rambutmu setelah sebelumnya hitam, kelemahan tubuhmu setelah sebelumnya kuat, dan kebongkokan tubuhmu setelah sebelumnya tegak, semua itu adalah utusanku kepadamu dan juga kepada anak Adam lainnya, sebelum saat ajalnya tiba!!”

Lebih Jahat Daripada Yang Berzina

Kisah Hikmah Islami
Lebih Jahat Daripada Yang Berzina
Seorang wanita dari Bani Israil datang menghadap kepada Nabi Musa AS dan berkata, “Ya Nabiyallah, saya telah berbuat dosa besar, dan kini saya bertaubat kepada Allah. Karena itu tolong doakanlah saya kepada Allah agar Dia mengampuni dosa saya dan menerima taubat saya!!”

Nabi Musa berkata, “Apakah dosamu itu?”

Wanita itu berkata, “Wahai Nabiyallah, saya telah berzina hingga mengandung dan punya anak, kemudian saya membunuh anak saya tersebut!!”

Mendengar penjelasan tersebut, Nabi Musa langsung berkata keras, “Enyahlah engkau dari sini, wahai pelacur, jangan membakar kami dengan apimu!! Jangan sampai ada api turun dari langit dan membakar kami karena kesialanmu itu!!”

Wanita tersebut keluar dengan hati hancur, tetapi ia tidak mau berputus asa dari rahmat Allah.

Tidak lama berselang, turun Malaikat Jibril mendatangi Nabi Musa dan berkata, “Wahai Musa, Tuhanmu berkata kepadamu, mengapakah engkau menolak orang yang datang untuk bertaubat? Tidak adakah orang yang lebih jahat daripada dirinya?”

Nabi Musa bertanya, “Siapakah orang yang lebih jahat daripada wanita itu?”

Malaikat Jibril berkata, “Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja!!”

Malaikat Jibril Menggambarkan Neraka

Kisah Hikmah Islami
Malaikat Jibril Menggambarkan Neraka
Suatu ketika Malaikat Jibril datang mengunjungi Nabi SAW, dan beliau bersabda, “Tolong engkau gambarkan kepadaku keadaan neraka!!”

Malaikat Jibril berkata, “Wahai Muhammad, api neraka itu hitam kelam, seandainya satu lubang jarum dari api neraka dijatuhkan, maka terbakarlah semua yang ada di muka bumi…!!”

Malaikat Jibril menjelaskan lagi, seandainya satu potong baju dari baju-baju yang ada di neraka digantungkan antara langit dan bumi, niscaya penghuni bumi akan mati karena terciumnya baunya yang sangat busuk.

Seandainya setetes zaqqum (makanan penduduk neraka dari pohon berduri) dilemparkan ke bumi, maka makanan penduduk bumi akan musnah.

Seandainya satu saja dari sembilanbelas malaikat yang disebutkan Allah SWT dalam Al Qur’an (Malaikat Zabaniah yang ditugaskan menyiksa penduduk neraka) muncul di tengah-tengah penduduk bumi, niscaya mereka semua akan mati karena buruknya dari bentuk, penampilan dan rupanya.

Seandainya satu lingkaran dari rantai belenggu neraka seperti yang disebutkan Allah SWT dalam Al Qur’an dibuang ke bumi, niscaya bumi itu hancur hingga lapisan yang paling bawah, dan bumi tidak bisa ditempati lagi.

Mendengar penjelasan-penjelasan tersebut, tiba-tiba Nabi SAW memotong ucapan Jibril, “Cukup, wahai Jibril!!”

Kemudian beliau menangis. Malaikat Jibril ikut menangis melihat beliau menangis, maka Nabi SAW bersabda, “Wahai Jibril, mengapa engkau menangis, sedangkan kedudukan engkau begitu dekat dengan Allah…!!”

Jibril berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada kedudukanku di sisi Allah, kecuali posisiku saat ini. Dan aku (takut) diuji dengan apa yang diujikan kepada Malaikat Harut dan Marut, serta iblis yang terkutuk tersebut!!”

Maka dua mahluk termulia dari golongan manusia dan malaikat itu kembali menangis karena takutnya kepada “makar’ Allah SWT, yang mungkin saja akan menimpa mereka.

Iblis Bertamu Kepada Nabi Musa As

Kisah Hikmah Islami
Iblis Bertamu Kepada Nabi Musa As
Suatu ketika Nabi Musa AS sedang duduk sendiri, tiba-tiba datang seorang lelaki dengan penampilan menarik dan memakai topi yang berwarna-warni. Tiba di hadapan Nabi Musa, lelaki itu membuka topinya dan mengucap salam, tetapi beliau tidak serta merta menjawab salamnya. Ada firasat tertentu sehingga beliau tidak menjawab salamnya, dan justru bertanya, “Siapakah engkau ini?”

Lelaki itu berkata, “Saya iblis!!”

Benarlah apa yang dirasakan Nabi Musa, beliau berkata, “Kenapa kamu datang kemari??”

Iblis menjawab, “Untuk memberi selamat kepadamu atas kedudukanmu di sisi Allah!!”

Nabi Musa tidak mau terjebak dengan perangkap iblis yang bernada pujian tersebut, dan mengalihkan pada hal lainnya, beliau berkata, “Untuk apa topi yang kamu bawa itu?”

“Untuk mengelabuhi manusia!!” Kata Iblis.

“Beritahukanlah kepadaku, dosa apa yang bila dilakukan manusia, yang membuat engkau akan mudah menguasainya?” Kata Nabi Musa.

Maka iblis berkata, “Apabila manusia itu merasa bangga bercampur sombong atas dirinya sendiri. Merasa amalnya telah banyak dan melupakan dosa-dosanya. Maka di saat itulah saya dengan mudah apat menguasainya!!”

Kedermawanan Seorang Majusi

Kisah Hikmah Islami
Kedermawanan Seorang Majusi
Seorang wanita dari kalangan Alawiyah (keturunan dari Ali bin Abi Thalib, termasuk dalam Ahlul Bait Nabi SAW) hidup dalam keadaan fakir setelah ditinggal wafat suaminya. Ia mempunyai beberapa orang anak perempuan yang masih kecil. Karena khawatir orang-orang di sekitarnya akan gembira karena penderitaannya, wanita janda dan anak-anak yatimnya itu meninggalkan tanah kelahirannya, pindah ke suatu tempat, yang ia sendiri belum tahu ke mana?

Dalam perjalanannya, wanita tersebut memasuki suatu desa dan tinggal di masjid yang kosong. Karena anak-anaknya dalam keadaan lapar, wanita tersebut mencoba mencari (meminta) makanan dari warga sekitar masjid, yang tentunya tidak mengenal kalau dia seorang Alawiyah. Ia memasuki suatu rumah dari seorang muslim yang tampak berkecukupan, yang ternyata adalah salah seorang pembesar di desa tersebut. Ia berkata, “Saya ini seorang perempuan asing….”

Dan wanita tersebut menyebutkan keadaannya dan anak-anaknya yang dalam kelaparan, tetapi lelaki tersebut mengabaikannya begitu saja. Maka wanita itu meninggalkan rumah tersebut, dan berjalan lagi sampai di suatu rumah lainnya. Permilik rumah tersebut yang ternyata beragama Majusi, menyambut kehadirannya dengan gembira. Setelah ia menceritakan keadaannya, lelaki Majusi itu memenuhi kebutuhannya, bahkan ia mengirim salah seorang istrinya menjemput anak-anak wanita tersebut di masjid dan membawanya untuk tinggal di rumahnya. Ia begitu memuliakan Wanita Alawiyah dan anak-anak yatimnya itu, layaknya terhadap kaum kerabatnya sendiri.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang didatangi Wanita Alawiyah itu bermimpi, seolah-olah hari kiamat telah tiba. Ia melihat Rasulullah SAW berdiri di samping sebuah gedung yang amat megah dan indah, maka ia mengucap salam kepada beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, untuk siapakah gedung itu?”

“Untuk orang-orang Islam!!” Kata Nabi SAW

Lelaki itu berkata penuh harap, “Saya adalah orang Islam, saya juga bertauhid!!”

Tetapi tanpa diduga, Nabi SAW bersabda dengan nada kurang ramah, “Tunjukkan buktinya di hadapanku!!”

Lelaki tersebut tampak bingung mendengar sabda beliau dengan nada seperti itu, bahkan ketakutan. Kemudian Nabi SAW menceritakan tentang wanita yang telah mendatanginya meminta sesuatu dan ia mengabaikannya itu, dan ia terbangun dari mimpinya. Tampak tergambar kesedihan dan penyesalan tak terkira di wajahnya karena sikapnya terhadap Wanita Alawiyah tersebut.

Keesokan harinya ia berjalan berkeliling untuk mencari wanita tersebut, dan akhirnya ditunjukkan ke tempat orang Majusi. Setelah bertemu, ia meminta dengan sangat agar lelaki Majusi itu menyerahkan wanita dan anak-anak yatimnya tersebut kepadanya. Lelaki Majusi itu menolak dengan keras permintaannya, dan berkata, “Kami benar-benar merasakan berkah dari kehadiran wanita tersebut dan anak-anaknya!!”

Lelaki Muslim itu mengeluarkan sekantong uang sambil berkata, “Ambillah uang seribu dinar ini, dan serahkanlah mereka kepadaku!!”

Lelaki Majusi tetap bertahan menolak permintaan tersebut walaupun “disuap” dengan seribu dinar. Lelaki Muslim yang juga pembesar desa itu tampaknya ingin memaksakan kehendaknya, dengan memanfaatkan kekuasaannya. Segala cara, dari yang halus hingga yang kasar dilakukannya untuk bisa membawa wanita Alawiyah itu beserta anak-anaknya.

Karena lelaki Muslim itu begitu memaksa, maka lelaki Majusi itu berkata, “Apa yang engkau inginkan itu, akulah yang lebih berhak dengannya. Mungkin engkau bermimpi sebagaimana aku memimpikannya, dan gedung yang engkau lihat dalam mimpi itu diciptakan untukku. Apakah engkau ingin membanggakan keislamanmu padaku?” Demi Allah, aku dan seluruh keluargaku tidaklah tidur tadi malam kecuali telah memeluk Islam di tangan wanita tersebut…”

Kemudian lelaki Majusi yang sebenarnya telah memeluk Islam itu menceritakan, bahwa dalam mimpinya tersebut ia bertemu Rasulullah SAW berdiri di sisi gedung yang megah dan indah, sebagaimana dimimpikan si lelaki muslim, dan beliau bersabda, “Apakah wanita Alawiyah dan anak-anak perempuannya itu ada di sisimu?”

“Benar, ya Rasulullah!!” Katanya.

“Gedung ini milikmu dan selutuh anggota keluargamu!!” Kata Nabi SAW, dan setelah itu lelaki Majusi tersebut terbangun.

Riwayat lain menyebutkan, lelaki tersebut tetap dalam agama Majusi ketika tidur dan bermimpi itu. Setelah tersentak bangun dari impiannya, ia segera menemui wanita Alawiyah tersebut dan berikrar memeluk Islam beserta seluruh anggota keluarganya.

Lelaki Muslim itu akhirnya pulang dengan kesedihan dan penyesalan yang tidak terkira. Kalau saja ia bisa membalikkan (memundurkan) waktu, tentu ia akan mengambil sikap yang berbeda. Tetapi seperti kata pepatah, pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Tidak ada jalan untuk “mengambil” keutamaan yang telah hilang, kecuali dengan taubat dan terus bertaubat.

Jenazah Yang Meninggalkan Hutang

Kisah Hikmah Islami
Jenazah Yang Meninggalkan Hutang
Suatu ketika Nabi SAW sedang berada di masjid bersama beberapa orang sahabat. Tiba-tiba datang serombongan orang membawa jenazah ke masjid, maka Nabi SAW bersabda, “Apakah ia (jenazah tersebut) meninggalkan hutang?”

Salah seorang dari mereka berkata, “Tidak, ya Rasulullah!!”

Maka Nabi SAW mengimami shalat jenazah tersebut

Pada kesempatan lain ketika beliau sedang berada di masjid juga, beberapa orang membawa jenazah untuk dishalatkan, maka Nabi SAW bersabda, “Apakah ia (jenazah tersebut) meninggalkan hutang?”

Salah seorang dari mereka berkata, “Benar, ya Rasulullah!!”

Beliau bersabda lagi, “Apakah ia meninggalkan sesuatu (untuk membayar hutangnya) ?”

“Ada, ya Rasulullah, tiga dinar!!” Kata salah seorang dari mereka.

Maka Nabi SAW mengimami shalat jenazah tersebut.

Pada kesempatan lain lagi ketika beliau sedang berada di masjid juga, beberapa orang membawa jenazah untuk dishalatkan, maka Nabi SAW bersabda, “Apakah ia (jenazah tersebut) meninggalkan hutang?”

“Benar, ya Rasulullah!!” Kata salah seorang dari mereka.

Beliau bersabda lagi, “Apakah ia meninggalkan sesuatu (untuk membayar hutangnya) ?”

“Tidak, ya Rasulullah!!”

Maka Nabi SAW bersabda kepada para sahabat, “Shalatkanlah kawanmu ini!!”

Tetapi beliau sendiri tidak ikut shalat jenazahnya.

Dalam riwayat lainnya disebutkan, ketika Nabi SAW memerintahkan para sahabat menyalatkan tanpa beliau mengikutinya, Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, biarlah hutang jenazah tersebut saya yang menanggungnya!!”

Maka Nabi SAW mengimami shalat jenazahnya.

Kisah Hikmah Islami Dzikrnya Seekor Ulat

Kisah Hikmah Islami
Dzikrnya Seekor Ulat
Nabi Dawud AS terkenal dengan suaranya yang merdu. Kalau beliau sedang berdzikr atau sedang melantunkan Zabur, terkadang burung-burung dan gunung-gunung ikut berdzikr pula bersama beliau. Suatu ketika beliau sedang duduk dimushalla sambil menelaah Zabur, tiba-tiba terlihat seekor ulat merah melintas di tanah. Nabi Dawud berkata kepada dirinya sendiri, “Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?”

Ternyata Allah memberikan “ijin” kepada ulat tersebut bisa berbicara dengan bahasa manusia, untuk menerangkan keadaannya kepada Nabi Dawud. Ulat tersebut berkata, “Wahai Nabiyallah, apabila siang datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca : Subkhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallaahu akbar, sebanyak seribu kali. Dan jika malam datang, Allah mengilhamkan kepadaku untuk membaca : Allahumma shalli ‘alaa Muhammad an nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, sebanyak seribu kali…”

Nabi Dawud terkesima dengan ucapan ulat tersebut. Sang ulat berkata lagi, “Lalu engkau, ya Nabiyallah, apa yang akan engkau katakan agar aku memperoleh faedah darimu!!”

Nabi Dawud menyesal telah meremehkan ulat tersebut, kemudian menangis penuh rasa takut kepada Allah, bertobat dan berserah diri kepada Allah.

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai