Kisah Hikmah Islami Lebih Baik Tanpa Mu’jizat

Kisah Hikmah Islami
Lebih Baik Tanpa Mu’jizat
Suatu ketika Nabi SAW didatangi oleh beberapa orang tokoh Quraisy, mereka berkata, “Hai Muhammad, engkau telah menceritakan kepada kami mu’jizat para Rasul, bahwa Musa mempunyai tongkat, dan dengan tongkat itu ia memukul batu (sehingga keluarlah air). Isa bisa menghidupkan orang yang telah mati, dan Shaleh diberi unta untuk menguji kaum Tsamud, maka datangkanlah mu’jizatmu agar kami percaya kepadamu!!”

Dalam riwayat lainnya, para tokoh Quraisy tersebut didatangi oleh beberapa orang Yahudi dan “memprovokasi” mereka untuk menanyakan mu’jizat Nabi SAW, sembari mereka menceritakan beberapa mu’jizat para Rasul yang mereka ketahui dari Kitab Taurat.

Mendengar permintaan tersebut, Nabi SAW bersabda, “Apa yang kalian inginkan?”

Para tokoh Quraisy itu berkata, “Cobalah gunung Shafa itu dijadikan emas!!”

Nabi SAW memang sangat menginginkan kaum Quraisy, yang sebenarnya masih kerabat beliau itu memeluk Islam, karena itu beliau bersabda, “Jika aku telah melaksanakan permintaan kalian itu, apakah kalian akan percaya kepadaku (dan memeluk Islam) ?”

Mereka berkata, “Demi Allah, kami akan taat kepadamu!!”

Maka Nabi SAW berdiri untuk berdoa kepada Allah, tetapi belum sempat beliau memulai, datanglah Malaikat Jibril kepada beliau. Setelah mengucap salam, ia berkata, “Jika engkau menghendakinya dan berdoa kepada Allah, pastilah gunung Shafa itu menjadi emas. Tetapi jika ternyata mereka tidak mempercayainya, pastilah Allah akan menyiksa mereka. Karena itu lebih baik engkau biarkan mereka (tidak perlu memenuhi kemauan dan permintaan mereka), sehingga bertaubat orang-orang yang ingin bertaubat…!!”

Tidak lama kemudian, turunlah wahyu Allah, QS Al An’am ayat 109-111, yang menjelaskan bahwa mu’jizat-mu’jizat tersebut adalah hak “prerogatif” Allah untuk menurunkan atau memberikannya. Bukan mu’jizat-mu’jizat itu yang menyebabkan orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi semata-mata jika Allah menghendakinya untuk memperoleh hidayah.

Memang, jarang sekali kita temukan, walau memang ada beberapa, mu’jizat Nabi SAW yang muncul ditujukan untuk membuat orang percaya atau meyakini beliau. Kebanyakan mu’jizat beliau itu datang ketika dalam keadaan mendesak dan membutuhkan, misalnya kambing yang tidak bisa mengeluarkan air susu, baik karena masih belum pernah beranak, atau sudah tua atau keadaan lainnya, tiba-tiba mengeluarkan air susu ketika diperah oleh Rasulullah SAW, atau sahabat beliau (lihat kisahnya dalam buku “Percik Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW”, pada kisah sahabat Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Amr al Aswad, Ummu Ma’bad saat Nabi SAW Hijrah dll), makanan atau kurma yang sedikit bisa untuk orang banyak yang menggali parit saat Perang Khandaq, atau membayar hutang yang banyak (lihat kisah : Jabir bin Abdullah), dua mazadah (tempat air dari kulit) air bisa memenuhi kebutuhan satu pasukan, tanpa berkurang sedikitpun (lihat kisah : Wanita Pembawa Air). Ranting yang menjadi pedang (lihat kisah : Ukkasyah bin Mikhsan), dan beberapa mu’jizat beliau lainnya.

Kisah Hikmah Islami Didoakan Malaikat Jibril Masuk Neraka

Kisah Hikmah Islami
Didoakan Malaikat Jibril Masuk Neraka
Suatu ketika Nabi SAW naik mimbar. Sebagian riwayat menyebutkan, saat itu di akhir Bulan Sya’ban, menjelang masuk Bulan Ramadhan, tiba-tiba saja beliau mengucapkan “Amin!!”, tidak berselang lama, beliau mengucap lagi, “Amin!!”, beberapa saat kemudian beliau mengucap lagi, “Amin!!”

Salah seorang sahabat yang hadir saat itu memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau naik mimbar, dan tiba-tiba saja engkau mengucap ‘amin’ hingga tiga kali, tanpa kami tahu apa maksud dan tujuannya….!!”

Dengan tersenyum Nabi SAW memandang para sahabat yang tampak penuh tanda-tanya dengan sikap beliau tersebut. Kemudian beliau menceritakan, ketika naik mimbar tersebut, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan berkata, “Barang siapa yang mendapati bulan Ramadhan, akan tetapi belum juga diampunkan dosanya hingga ia mati, kemudian ia masuk neraka, maka (sungguh) Allah telah menjauhkannya (dari Rahmat-Nya)….!!”

Dan Malaikat Jibril berkata kepada Nabi SAW, “Katakanlah : Amin!!”

Maka beliau berkata, yang didengar oleh para sahabat, “Amin!!”

Kemudian Malaikat Jibril berkata lagi, “Barang siapa yang mendapati kedua orang-tuanya, atau salah satu dari keduanya, dan ia tidak berbuat baik (tidak taat) kepada keduanya hingga ia mati, kemudian ia masuk neraka, maka (sungguh) Allah telah menjauhkannya (dari Rahmat-Nya)…!!”

Dan Malaikat Jibril berkata kepada Nabi SAW, “Katakanlah : Amin!!”

Maka beliau berkata, yang didengar oleh para sahabat, “Amin!!”

Kemudian Malaikat Jibril berkata lagi, “Barang siapa yang mendengar namamu (Nabi Muhammad SAW) disebutkan kepadanya, dan ia tidak membaca shalawat untukmu hingga ia mati, kemudian ia masuk neraka, maka (sungguh) Allah telah menjauhkannya (dari Rahmat-Nya…!!”

Dan Malaikat Jibril berkata kepada Nabi SAW, “Katakanlah : Amin!!”

Maka beliau berkata, yang didengar oleh para sahabat, “Amin!!”

Nino Nurmadi, S.Kom Islami , Iman , Ikhsan, Haji, Umroh, Doa, Shalat, Puasa, Zakat,

Kisah Hikmah Islami Membeli Surga Dengan Memaafkan Suatu ketika para sahabat sedang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, mereka melihat suatu pemandangan yang aneh. Tiba-tiba saja mereka melihat Nabi SAW tampak bersedih dan mata beliau berkaca-kaca seolah akan menangis. Tetapi tidak berapa lama kemudian, tampak wajah beliau berbinar-binar gembira, bahkan beliau tertawa sehingga kelihatan dua gigi seri beliau. Para sahabat penasaran, tetapi mereka malu untuk bertanya, sampai akhirnya Umar yang memang cukup kritis, berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau tampak menangis, kemudian tertawa??” Nabi SAW tersenyum melihat wajah-wajah para sahabat yang tampak keheranan sekaligus penasaran. Kemudian beliau berkata, “Sungguh ditampakkan kepadaku suatu pemandangan di saat ditegakkan pengadilan Allah (yakni, yaumul hisab, hari perhitungan) …..!!” Kemudian beliau menceritakan, bahwa ada dua orang dari umat beliau yang menghadap Allah SWT. Salah satunya mengadukan temannya, ia berkata, “Wahai Allah, ambilkanlah untukku, kedzaliman yang dilakukan saudaraku ini (padaku)!!” Maka Allah berfirman kepada orang yang mendzalimi tersebut, “Berikanlah kepada saudaramu kedzalimanmu itu (yakni kebaikannya, untuk menebus kedzaliman yang telah dilakukannya saat di dunia kepada saudaranya itu)….!!” “Wahai Rabbi, bagaimana aku bisa melakukannya sedangkan aku tidak (lagi) memiliki kebaikan sedikitpun!!” Kata Lelaki yang dzalim itu. Allah berfirman kepada lelaki yang menuntut tersebut, “Bagaimana engkau meminta darinya, sedangkan ia tidak memiliki lagi kebaikan sedikitpun…!!” “Diambilkan dari keburukan-keburukanku, ya Allah, dan pikulkanlah kepada dirinya…!!” Memang seperti itulah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dosa atau kedzaliman yang berhubungan dengan manusia (termasuk hutang), tidak cukup hanya dengan bertobat kepada Allah. Harus diselesaikan (dihalalkan) dengan mereka ketika masih hidup di dunia. Jika tidak, kejadiannya akan seperti yang diceritakan Nabi SAW tersebut di atas. Ketika melihat pemandangan itulah Nabi SAW merasa bersedih dan hampir menangis melihat keadaan umatnya yang memilukan tersebut. Reaksi beliau yang seperti itu dilihat oleh para sahabat tanpa tahu penyebabnya. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Itu adalah hari yang agung, di mana pada hari itu setiap orang membutuhkan adanya orang lain yang dapat memikul kesalahan-kesalahannya….!!”<;br /> Tak lama kemudian Nabi SAW meneruskan cerita beliau, bahwa dalam keadaan seperti itu, Allah SWT berfirman kepada lelaki yang mengajukan tuntutan, “Angkatlah kepalamu, dan lihatlah!!” Lelaki tersebut mengangkat kepalanya dan ia melihat pemandangan yang menakjubkan, kalau sekarang ini bisa digambarkan seperti melihat tayangan televisi raksasa, yang membuatnya terpana kagum. Ia berkata, “Ya Rabbi, saya melihat kota-kota yang bangunannya bertatahkan perak dan emas. Untuk nabi yang manakah ini? Untuk orang setia yang manakah ini? Untuk orang syahid yang manakah ini??” Allah berfirman, “Itu semua untuk orang yang mampu membayar harganya!!” “Siapakah yang mampu membayarnya, ya Allah?” Tanya lelaki itu. “Engkau mampu membayarnya!!” “Dengan apa saya harus membayarnya, ya Allah?” “Dengan memberi maaf kepada saudaramu!!” Segera saja lelaki penuntut tersebut berkata, “Ya Allah, saya telah memaafkan dirinya!!” Dalam riwayat lain disebutkan, setelah lelaki itu memaafkan temannya, Allah berfirman kepadanya, “Gandenglah tangan saudaramu itu, dan ajaklah ia masuk ke surga yang telah menjadi milikmu tersebut!!” Ketika melihat pemandangan tersebut, Nabi SAW menjadi gembira dan beliau tertawa sehingga terlihat dua gigi seri beliau, reaksi yang dilihat oleh para sahabat tanpa mereka mengetahui penyebabnya. Selesai menceritakan semua itu, Nabi SAW bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan antara kalian. Sesungguhnya Allah menghubungkan antara orang-orang mukmin…!!”

Doa Niat Mandi

Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha

Doa Niat Mandi

Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha

Niat Mandi Sunnah Hari Raya Idul Fitri

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْفِطْرِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul Ghusla Liyaumi ‘Iiedil Fithri Sunnatan Lillaahi Ta’Alaa

Artinya :

Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Fitri Sunnah karena Allah Ta’ala

Niat Mandi Hari Raya Idul Adha (Sunah)

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ اْلاَضْحَى سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul Ghusla Liyaumi ‘Iiedil Adhaa Sunnatan Lillaahi Ta’Alaa

Artinya :

Sengaja saya mandi pada hari Raya Idul Adha Sunnah karena Allah Ta’ala

Seperti diketahui, ada beberapa jenis mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW, beberapa diantaranya yaitu mandi sebelum sholat jum’at, mandi setelah memandikan mayit, mandi sebelum hari raya idul fitri dan/atau hari raya idul adha dan masih banyak lagi.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib, “Seseorang pernah bertanya pada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengenai mandi. ‘Ali menjawab, “Mandilah setiap hari jika kamu mau.” Orang tadi berkata, “Bukan. Maksudku, manakah mandi yang dianjurkan?” ‘Ali menjawab, “Mandi pada hari Jum’at, hari ‘Arofah, hari Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Al Baihaqi 3/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Lihat Al Irwa’ 1/177)

Niat Mandi Hari Jum’at

Niat Mandi Hari Jum’at

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلصَّلاَةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitul Ghusla Lishshalaati Miy Yaumil Jumu’Ati Sunnatal Lillaahi Ta’Aalaa

Artinya :

Saya niat mandi untuk shalat pada hari jum’at (mandi jum’at) sunnah karena Allah Ta’ala

Untuk waktu pelaksanaan mandi jum’at yaitu semenjak terbit fajar hingga menjelang pelaksanaan shalat Jum’at. Siapa yang mandi sebelum terbit fajar tidak terhitung telah melaksanakan ibadah mandi Jum’at, begitu juga orang yang melaksanakannya sesudah selesai pelaksanaan shalat Jum’at.

Doa Setelah Selesai Wudhu

Doa Setelah Selesai Wudhu

اَشْهَدُ اَنْ لآّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Asyhadu Allaa Ilaaha Illalloohu Wahdahuu Laa Syariika Lahu Wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhuuwa Rosuuluhuu, Alloohummaj’Alnii Minat Tawwaabiina Waj’Alnii Minal Mutathohhiriina

Artinya :

Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci (sholeh)

Arti wudhu menurut bahasa adalah bersih dan indah, sedangkan menurut syarat berarti membersihkan bagian anggota tubuh untuk menghilangkan hadats kecil sebelum mengerjakan shalat baik shalat wajib dan sunnah atau untuk membaca Al-Qur’an. Berwudhu merupakan kegiatan yang wajib dilakukan sebelum shalat karena berwudhu adalah syarat shalat. Berwudhu memiliki banyak manfaat elain untuk menghapus dosa untuk mengangkat derajat dan kedudukan dalam surga.

Berdoa setelah berwudhu hukumnya sunnah, yang jika dikerjakan mendapat pahala dan jika tidak dikerjakan maka rugilah. Tetapi alangkah baiknya, kita mengamalkan Doa Setelah Wudhu untuk menjadi muslim yang beriman.

Doa Mohon Terhindar dari Bahaya Kecelakaan

Doa Mohon Terhindar dari Bahaya Kecelakaan

اَللهُمَّ اِنِّىْ اَعُوْذُبِكَ مِنْ جَهْدِالْبَلآءِ وَدَرْكِ الشَّقَآءِ وَسُوْءِالْقَضَآءِ وَشَمَاتَةِاْلاَعْدَآءِ

Alloohumma Innii A’Uudzubika Min Jahdil Balaa-I Darqisy Syaqoo-I Wa Suu-Il Qodoo-I Wa Syamaatatil A’Daa-I

Artinya :

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari kengerian balak, menemui kesengsaraan, qadla yang buruk dan merasa senangnya musuh.

Kecelakaan sering kali kerap terjadi, entah itu kecelakaan dara, laut maupun udara. Untuk itu, kami mengajak Anda sebelum bepergian untuk selalu memanjatkan doa meminta agar terhindar dari bahaya kecelakaan.

Meskipun sebelemnya Anda sudah membaca Doa Ketika Naik Kendaraan, namun tidak ada salahnya Anda juga berdoa memohon agar supaya dihindarkan dari bahaya kecelakaan selama dalam perjalanan dan selamat sampai tujuan.

Doa Ketika Mempunyai Firasat Buruk

Doa Ketika Mempunyai Firasat Buruk

اَللَّهُمَّ لاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ إِلَـهَ غَيْرُكَ

Allaahumma Laa Thoiro Illaa Thoiruka, Walaa Khoiro Illaa Khoiruka, Walaa Ilaaha Ghoiruka

Artinya :

“Ya Allah! Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Engkau tentukan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, serta tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau”. (HR. Ahmad dan Ibnu Sunni)

Terkadang kita sering mempunyai firasat yang baik dan terbukti benar, namun tidak jarang juga firasat-firasat buruk juga terbukti akan adanya sesuatu yang buruk pula. Maka dari itu, ketika kita mempunyai firasat buruk, hendaklah membaca doa agar supaya firasat tersebut tidak membawa sial.

Firasat bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Misalnya dari mimpi, atau dari hal-hal di sekitar kita, seperti kejatuhan cicak dan masih banyak lagi. Sebagian orang meyakini bahwa orang yang kejatuhan cicak, ini merupakan salah satu firasat atau tanda bahwa orang tersebut akan mendapat kesialan atau hal-hal yang buruk. Jika demikian, hendaklah membaca doa. Dan berikut adalah bacaan doa ketika mempunyai firasat jelek tidak baik dan buruk

Doa Ketika Ada Angin Kencang

Doa Ketika Ada Angin Kencang

اَللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا فِيْهَا وَخَيْرَمَآ اَرْسَلْتَ بِهِ، وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَآ اَرْسَلْتَ بِهِ

Alloohumma Inni As-Aluka Khoirohaa Wa Khoiro Maa Fiihaa Wa Khoiro Maa Arsalta Bihi Wa A’Uudzu Bika Min Syarrihaa Wa Syariimaa Arsalta Bihi

Artinya :

Ya Allah! aku mohon kepadaMu kebaikannya (angin) dan kebaikannya apa yang ada padanya, dan kebaikan yang dibawanya, dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatannya dan kejahatan yang ada padanya dan kejahatan yang dibawanya.

Angin yang bertiup dengan kencang sangat membahayakan bagi semua makhluk yang ada di bumi, seperti halnya angin puyuh, angin putih beliung, angin topan dan lain sebagainya. Angin kencang bisa terjadi kapan saja tanpa harus musim hujan. Namun akan lebih mengerikan lagi kalau hujan turun disertai angin. Maka sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk membaca doa-doa tolak bala agar supaya terhindar dari segala bahaya, termasuk bahaya angin kencang.

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai